17Jul, 2013

Tips Menjadi Praktisi PR Profesional

Untuk menjadi seorang praktisi PR profesional, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan – dan hindari! Berikut adalah tips dari kami:

public_relations_2DO’S:

1. Mendengarkan

Praktisi PR harus rajin mengamati dan mendengarkan. Mendengarkan sangat penting untuk dapat memahami paradigma lawan bicaranya, menemukan sudut pandang yang relevan, dan akhirnya menggunakan sudut pandang tersebut untuk mampu menyentuh dan menggerakkan.

Dengan rajin mendengarkan dan mengamati, kita akan mampu menggali berbagai perasaan, sentimen, opini, persepsi, ekspektasi, dan harapan dari berbagai macam orang di berbagai komunitas yang berbeda-beda.

Setelah itu, dibutuhkan pula kemampuan untuk menganalisis berbagai data tersebut dan meramunya menjadi informasi yang dapat dijadikan dasar yang kuat dalam membuat keputusan dan strategi komunikasi lebih lanjut.

2. Bercerita

Praktisi PR pada dasarnya adalah “story teller”. Derajat praktisi PR ditentukan oleh kemampuannya menyentuh orang lain melalui ceritanya. Berdasarkan analisis yang tajam setelah menggali berbagai data yang dibutuhkan, praktisi PR harus mampu mengemas ceritanya dan membangun relevansi di berbagai komunitas yang berbeda, dengan orang-orang yang berbeda pula. Ingat, sekarang “Public Relations” sudah diterjemahkan kembali menjadi “People Relations”, di mana praktisi PR dituntut untuk mampu menyentuh orang yang berbeda-beda, bukan hanya publik secara luas.

Seorang pekerja yang anaknya sedang sakit perlu didekati dengan metode bercerita yang berbeda dengan pemimpin LSM yang sedang berdemonstrasi, misalnya.

Nah, seorang pencerita sejati akan mampu mengemas pesan yang sama dengan  sudut pandang yang berbeda kepada kedua jenis orang tersebut.

3. Menulis

Salah satu kemampuan praktisi PR yang paling penting adalah menciptakan konten, dan konten yang paling lazim diciptakan oleh praktisi PR adalah tulisan. Praktisi PR harus mampu mengemas pemikirannya agar dapat menyentuh hati pembacanya, membangun dukungan dan ketertarikan yang berujung pada pembangunan persepsi dan perilaku yang diinginkan. Dengan adanya perkembangan teknologi media sosial, konten yang dibuat juga diharapkan dapat bersifat viral, atau “layak sebar” ke komunitas yang lebih luas.

Tulisan dapat mengambil banyak bentuk, antara lain:

  • Artikel
  • Kolom
  • Blog post
  • Facebook note
  • Tweet

Keahlian tidak bisa datang begitu saja, jadi praktisi PR harus berlatih menulis setiap hari. Dari latihan sehari-hari inilah praktisi PR berkembang dan tumbuh menjadi produsen konten yang mampu menggerakan hati, tangan, kaki, dan mulut pembacanya sesuai keinginan.

4. Membangun daya tarik audio visual

Karena konten PR tidak terbatas pada tulisan, praktisi PR perlu paham mengenai fotografi dan video yang bernilai dan – sekali lagi – mampu menyentuh hati pemirsanya. Praktisi PR harus paham berbagai jenis foto dan video yang tepat untuk berbagai kepentingan.Sekali lagi, tujuan akhirnya adalah “action” dan “sharing”.

Seorang konsultan PR yang pernah membantu Obama memenangkan kampanye mengatakan bahwa ia memulai kerjanya dengan membayangkan tayangan seperti apa yang ia inginkan muncul di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Ia akan dating jauh-jauh hari ke tempat acara dan membayangkan gemerlap dan “special effect” pada hari H yang akan ia adakan pada tempat tersebut. Menurutnya, kemampuan menciptakan bayangan yang “spektakuler” pada saat merencanakan acara itulah yang menjadi kunci suksesnya membangun berbagai pemberitaan dan konten-konten yang menyentuh di berbagai media, termasuk media sosial.

5. Tanggap digital

Perkembangan teknologi saat ini menjadikan semua orang yang memiliki akun media social sebagai penerbit, semua orang yang memiliki kamera/video recorder pada “smart phone” sebagai fotografer dan “film maker”. Nah, praktisi PR harus mampu menggunakan semua alat teknologi digital ini untuk mampu menciptakan konten secara cepat, sederhana, dan berkualitas tinggi, serta menyebarkannya melalui berbagai “touchpoint” di mana ia “bergaul”. Kemampuan inilah yang akan membuatnya menjadi pencerita yang berpengaruh dan mampu mendorong anggota komunitasnya melakukan sesuatu yang diharapkan, atau menyebar konten tersebut ke komunitas yang lebih luas.

6. Senang bergaul

Definisi PR adalah “membangun hubungan baik yang saling menguntungkan melalui komunikasi dua arah.” Nah, kemampuan terpenting bagi praktisi PR adalah kemampuan bergaul dan membangun jaringan. Bagi praktisi PR, persahabatan dan jaringan adalah segalanya. Dari sinilah ia akan mampu menggunakan kemampuannya sebagai pencerita dan mulai membangun lingkarpengaruhnya.

Nah, dalam dunia media sosial ini, kemampuan bergaul harus diperluas menjadi kemampuan bergaul di media sosial, karena hal ini menjadi “balaipertemuan” baru bagi praktisi PR di mana berbagai komunitas berbagai jenis dapat ditemui.

Kemampuan bergaul ini pun penting dalam membangun kemampuan bercerita, karena pergaulan di tempat yang berbeda membutuhkan cerita yang berbeda pula. Kemampuan bergaul secara luas akan membangun sikap yang natural bagi praktisi PR untuk berbicara dan memikat public melalui berbagai media.

7. Berpikir positif

Praktisi PR bertugas untuk menyentuh dan menggerakkan hati, membangun pengaruh. Nah, kalau praktisi PR nya sendiri tak mampu berpikir positif dan bersikap positif terhadap berbagai perilaku baru yang harus ia pengaruhi, bagaimana ia dapat mempengaruhi orang lain untuk dapat memiliki persepsi yang positif terhadap ide yang ditawarkannya? Sangat penting bagi praktisi PR untuk memiliki “can do” spirit dan menyebarkan energi positif kepada siapapun yang ia temui atau ada dalam jaringannya.

8. Berhati-hati

Praktisi PR harus sadar bahwa apa yang ia ucapkan dapat mempengaruhi banyak orang, dan berdampak besar bagi organisasi. Sangat bahaya apabila praktisi PR bertindak ceroboh, tidak waspada dalam menyebarkan berita, informasi yang tidak dicek kebenarannya, atau keputusan perusahaan yang belum boleh disebarluaskan.

public_relations_1DONT’S:

1. Bersikap arogan

Arogansi seringkali muncul karena seseorang berasal dari organisasi besar atau memiliki latar belakang yang hebat. Nah, di masa kini, di mana setiap orang dibuat sangat pandai oleh media, arogansi adalah musuh publik nomor satu. Publik manapun sangat membenci arogansi, sehingga pesan apapun yang disampaikan, kalau disampaikan dengan arogan, tak akan mampu menyentuh dan menggerakkan hati publiknya.

2. Emosional

Pada saat emosi, praktisi PR dapat mengatakan apapun yang akan disesalinya kemudian. Maka sangat tak disarankan bagi praktisi PR untuk berkomunikasi dalam kondisi emosi tinggi. Publiknya pun bisa jadi dibuat emosi oleh letupannya. Akhirnya, bukannya simpati yang didapatkan, malah ketidaksukaan atau kebencian yang dituai.

Hal ini terjadi, sebagai contoh, di Singapura. Seorang pemilik toko roti sangat marah menerima keluhan pelanggannya. Melalui Facebook, keluhan tersebut dibalas dengan kata-kata yang sangat tidak sopan dan tidak simpatik. Akhirnya toko roti tersebut dijauhi oleh pelanggannya.

3. Terlambat berkomunikasi, ketakutan, dan tidak percaya diri

Di atas disampaikan bahwa praktisi PR harus berhati-hati dalam berkomunikasi. Namun terlalu berhati-hati dan terlambat berkomunikasi, atau tidak berkomunikasi sama sekali karena kurang percaya diri, juga dapat menimbulkan dampak negatif yang besar bagi organisasi.

Keluhan pelanggan yang tak ditangani dengan cepat, dapat menimbulkan kesan arogan, “tidak peduli” atau “tidak mampu berkomunikasi”. Pertanyaan wartawan yang tidak ditanggapi dengan baik atau dijawab “no comment” dapat menimbulkan kesan adanya kesalahan perusahaan yang ditutup-tutupi.

Bahasa tubuh yang ketakutan atau tidak percaya diri pun dapat menimbulkan kesan “berdosa”.

4. Sok tahu

Praktisi PR yang sok tahu merasa bahwa ia sudah tahu semua data yang ia butuhkan dan tak mau lagi menggali lebih dalam. Hal ini sangat berbahaya bagi praktisi PR, karena ia bisa saja salah dan tak mau menerima respon negative dari lawan bicaranya.

Seorang praktisi PR yang baik selalu mau menerima pandangan yang berbeda, bahkan mencari dan menggali berbagai pandangan yang berbeda. Sikap sok tahu sangat dekat dengan arogansi dan akhirnya dapat menimbulkan resistensi yang menyulitkan praktisi PR mencapai tujuannya.

Dunia kini pun berputar dengan sangatcepat. Ilmu yang berlaku tahun lalu belum tentu dapat berlaku saat ini. Jadi, praktisi PR harus selalu haus mencari informasi baru, menggali berbagai tren dan mengantisipasi apa yang akan terjadi, bukan bertahan pada pengalaman dan kejayaan masa lalu yang bisa jadi sudah basi.

Bagaimana menurut Anda? Apakah masih ada lagi yang ingin ditambahkan?

Image sources: themedialogist.wordpress.com, elpl.org